Mengagungkan Sunnah

Artikel Buletin An-Nur :

Mengagungkan Sunnah
Senin, 24 Januari 05

Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.¡¨ (QS. al-Ahzab : 36)

Di dalam ayat yang lain, artinya,
¡§Barangsiapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.¡¨ (QS. an-Nisa¡¦ :80)

Dan juga firman-Nya, artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi , dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras, sebagaimana kerasnya sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak gugur (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. al-Hujurat : 2)

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata mengomentari ayat ini, ¡§Maka Allah Subhannahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin tentang gugurnya amalan mereka karena mengeraskan suara kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sebagaimana mereka mengeraskan suara kepada temannya. Hal ini tidak menunjukkan kemurtadan, akan tetapi merupakan kemaksiatan yang dapat menggugurkan amalan, sedangkan pelakunya tidak merasakan. Maka bagaimana lagi terhadap orang yang mengesampingkan perkataan Rasul Shalallaahu alaihi wasalam, petunjuk serta jalanya, lalu mengutamakan perkataan, petunjuk dan jalan selain beliau? Bukankah hal ini sungguh telah menggugurkan amalannya, sedang mereka tidak merasakan?

Diriwayatkan dari al-Irbadh bin Saariyah dia berkata, ¡§Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan nasehat kepada kami dengan suatu nasehat yang membuat hati menjadi tergetar dan air mata pun bercucuran. Maka kami berkata, ¡§Wahai Rasulullah, seakan-akan nasehat itu adalah nasehat orang yang akan berpisah, oleh karena itu berilah nasehat kepada kami. Beliau berkata,
¡§Aku nasehatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat, walaupun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak, maka barangsiapa yang hidup di antara kalian, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa¡¦-ur Rasyidiin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah (pegang teguhlah) oleh kalian sunnah itu dengan gigi geraham. Dan berhati-hatilah kalian dari setiap hal yang baru, karena sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam neraka.¡¨

Berkata Abu Bakar Ash Shidiq, “Tidaklah pernah aku meninggalkan perbuatan yang Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melakukannya, melainkan aku selalu melakukannya. Dan sesungguhnya aku takut jika aku meninggalkan sesuatu dari perintahnya, maka aku akan menyimpang (tersesat).

Ibnu Bathoh mengomentari hal ini dengan perkataannya, “Wahai saudaraku! Ini ash-Shidiqul akbar, beliau merasa takut terhadap dirinya dari penyimpangan jika beliau menyelisihi sesuatu dari perintah Nabinya. Maka bagaimana pula terhadap suatu zaman yang masyarakatnya telah menjadi orang-orang yang memperolok-olok Nabi mereka dan perintahnya, bangga dengan suatu yang menyelisihi perintahnya dan bangga dengan pelecehan sunnahnya. Kita meminta kepada Allah ƒ¹agar terjaga dari ketergelinciran dan memohon keselamatan dari amalan-amalan yang jelek.

Dari Abi Qilaabah dia telah berkata, “Jika kamu mengajak berbicara kepada seseorang dengan sunnah, kemudian orang tersebut berkata, ¡§Tinggalkan ini dan berikan padaku Kitab Allah Subhannahu wa Ta’ala (saja), maka ketahuilah bahwasanya dia adalah orang yang sesat.”

Berkata al-Imam asy-Syafi’i, “Kaum muslimin telah bersepakat, bahwa barangsiapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , maka tidak halal baginya untuk meninggalkan sunnah tersebut dikarenakan perkataan seseorang.¡¨

Berkata al-Imam al-Barbahari, “Apabila kamu mendengar seseorang mencerca atsar atau menolak atsar atau menginginkan yang selain atsar, maka ragukanlah dia tentang keislamannya, dan janganlah kamu ragu bahwasanya dia adalah seorang pengikut hawa nafsu yang mubtadi’.

Disegerakan Balasan bagi Orang yang Melecehkan Sunnah

Diriwayatkan dari Salman bin Al Akwa, “Bahwasanya seseorang pernah makan di sisi Rasulullah n dengan tangan kirinya. Maka beliau berkata, “Makanlah dengan tangan kananmu.¡¨ Orang itu berkata, “Saya tidak bisa. Maka beliau berkata, “Kamu tidak akan bisa, tidaklah ada yang menghalangi orang tersebut (untuk makan dengan tangan kananya) melainkan hanya kesombongan. Berkata Salman, “Maka orang tersebut pun (akhirnya) tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya.

Berkata Abu Abdillah Muhammad bin Ismail at-Tamimi, ¡§Aku pernah membaca di dalam sebagian kisah-kisah, bahwasanya pernah ada seorang ahlul bid’ah tatkala mendengar sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, “Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari tidurnya, maka janganlah mencelupkan tangannya ke dalam bejana hingga dia mencucinya terlebih dahulu, karena dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.” Maka ahlul bid’ah tersebut berkata dengan nada mengejek, “Aku mengetahui di mana tanganku bermalam di atas tempat tidurku.¡¨ Maka ketika dia bangun dia dapati tangannya telah masuk ke dalam duburnya sampai ke pergelangan tangannya. Berkata at-Tamimi, “Hendaklah seseorang takut untuk menganggap ringan terhadap sunnah-sunnah dan masalah-masalah yang seharusnya tawaquf (diam). Maka hendaklah anda melihat terhadap apa yang terjadi pada orang-orang tersebut akibat perbuatan jeleknya.

Sikap Kaum Salaf terhadap Penentang Sunnah

Dari Qatadah dia berkata, “Ibnu Sirin pernah mengatakan kepada seorang tentang suatu hadits dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam kemudian orang tersebut berkata, ¡§Si Fulan telah berkata demikian dan demikian, maka Ibnu Sirin berkata, ¡§Aku mengatakan kepadamu dari Nabi Shalallaahu alaihi wasalam sedang engkau mengatakan si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian, maka aku tidak akan berkata kepadamu selamanya.¡¨

Berkata Abu as-Saaib, ¡§Kami pernah bersama Waki’ maka dia berkata kepada seorang yang ada di sisinya, yang termasuk orang yang berpandangan dengan akalnya, ¡§Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah melakukan isy’ar (menandai hewan sembelihan dengan sedikit melukai kulitnya), dan berkata Abu Hanifah bahwa isy¡¦ar itu adalah memberi tanda. Maka berkatalah orang tersebut bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim an-Nakho’i, bahwa dia berkata, ¡§Al-isy’ar adalah menyakiti.¡¨

Berkata (Abu Saaib), ¡§Maka aku melihat Waki’ marah dengan sangat marahnya dan berkata, ¡§Aku telah berkata kepadamu “Telah bersabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam sedang engkau berkata, “Telah berkata Ibrahim” maka tidak ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali perkataanmu ini.¡¨

Dari Khordzad bin al-’Abid dia berkata, ¡§Abu Muawiyah adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun ar-Rasyid tentang hadits, “Adam beradu argumen dengan Musa.” Maka tiba-tiba berkata seorang dari bangsawan Quraisy “Di mana Adam bertemu dengannya (Musa)¡¨. Maka Harun ar-Rasyid pun marah dan berkata, ¡§Untuk perkataan (yang mengada-ada) adalah pedang, dia seorang zindiq yang mencerca hadits.¡¨ Maka Abu Muawiyah terus berusaha menenangkan beliau lalu berkata, ¡§Sabar wahai Amirul Mu’minin, bahwa dia belum paham, sampai akhirnya beliau tenang.¡¨

Inilah nash-nash kitab dan sunnah tentang pengagungan Sunnah, serta beginilah sikap para salafus sholih terhadap orang-orang yang menentang sunnah. Kita lihat pada diri mereka terdapat kekuatan, keteguhan dan ketegasan terhadap orang yang menampakkan sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap sunnah.

Maka bandingkanlah sikap mereka terhadap orang-orang yang menentang sunnah dengan sikap orang di masa ini tatkala melihat orang yang menentang serta mengolok-olok Sunnah.

¡§Ya Rabb kami Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).

Di sadur oleh Purwanto dari kitab ¡§Ta¡¦zhimus sunnah wa mauqif as-salaf mimman ¡¥arodhoha au istahza¡¦a bisyai-in minha,¡¨ Abdul Qayyum bin Muhammad bin Nashir as-Suhaibani.

Filed under: – alsofwah.or.id |

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in agama islam. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s