Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada!

Bertakwalah di Mana Saja Engkau Berada!

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam untuk Rasulullah, sayyidul anam, beserta keluarga, dan para sahabatnya.

Di awal pekan ke tiga bulan Maret, kami sapa kepada pembaca situs berita Islam http://www.voa-islam.com dengan berpesan dan berwasiat untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Pesan wasiat Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya. Wasiat untuk orang terdahulu dan yang akan datang. Wasiat setiap rasul kepada kaumnya.

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

“Dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al Nisa’: 131)

Ibnul Qayyim dalam Fawaid-nya mengatakan, “Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berkata, ‘kami telah mempelajari semua ilmu yang telah dipelajari manusia dan belum mereka pelajari. Namun, kami tidak mendapatkan ilmu yang paling agung daripada bertakwa kepada Allah. Karena itulah bila engkau ingin memberi nasehat kepada seseorang yang engkau cintai; anakmu, temanmu, atau tetanggamu, maka nasihatilah mereka agar bertakwa kepada Allah’.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwasiat kepada Mu’adz bin Jabal ketika pergi ke Yaman dan disampaikan juga kepada Abu Dzar al Ghifari radliyallah ‘anhu:

اتَّقِ الله حَيثُمَا كُنْتَ ، وأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمحُهَا ، وخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya (perbuatan baik) akan menghapusnya (perbuatan buruk). Dan berperilakulah terhadap sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan al Tirmidzi, beliau menghasankannya).

Makna bertakwa di mana pun berada

Maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada” adalah bertakwa kepada Allah di manapun berada, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai. Bertakwalah di semua situasi dan kondisi. Jangan lah engkau bertakwa ketika berada di tengah-tengah manusia, namun ketika sendiri engkau tidak bertakwa. Sesungguhnya Allah melihat kamu di manapun kamu berada, maka bertakwalah kepada-Nya di manapun kamu berada.

Sebagian ulama salaf berkata, “wahai anak Adam, ketika kamu melakukan kemaksiatan mengapa kamu beranggapan ada Dzat yang mengawasimu. Dan ketika kamu merasa bersama Allah mengapa kamu tetap melakukan kemaksiatan dan tidak malu sebagaimana kamu malu kepada makhluk-Nya. Kamu adalah salah satu dari dua orang; pertama, jika kamu mengora Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir. Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang.”

Kamu adalah salah satu dari dua orang;

Pertama, jika kamu mengira Dia tidak melihatmu, maka kamu telah kafir.

Kedua, dan jika kamu tahu bahwa Dia melihatmu (sedangkan kamu tidak malu sebagaimana kamu malu terhadap makhluk-Nya yang lemah) maka kamu telah lancang.

Kenapa harus bertakwa?

Sesungguhnya hamba sangat membutuhkan takwa dalam segala kondisi. Bahkan kebutuhan kita kepada takwa lebih dari butuhnya kepada air dan udara. Karena siapa yang bertakwa kepada Allah akan mendapatkan solusi dari setiap persoalan yang dihadapinya, akan mendapatkan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka, mendapat petunjuk kepada kebenaran sehingga bisa membedakan yang hak dan yang batil, mendapat tambahan ilmu, dan masih banyak manfaat takwa lainnya. pada intinya bahwa takwa adalah pokok segala kebaikan dan sumber dari segala kebaikan dunia dan akhirat. Karenanya, Allah berwasiat sendiri kepada hamba-hamba-Nya yang terdahulu dan yang kemudian.

Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah akan mengalami kehinaan dan segala persoalannya tak akan beres. Sesunggunya maksiat yang menjadi lawan takwa, akan menyebabkan keruhnya hidup, menghalangi rizki, dan menyebabkan kerasnya hati.

Abu Sulaiman al Darani rahimahullah berkata, “Demi Allah kadang aku bermaksiat kepada Allah, lalu aku merasakan (pengaruhnya itu) pada watak hewanku dan juga istriku.” Artinya sampai hewanpun tidak setuju dengannya.

Apa itu takwa?

Asal makna takwa adalah upaya hamba menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang dia takuti dan khawatirkan, agar selamat darinya. Maka hamba yang bertakwa kepada Rabb-Nya adalah menjadikan batas pelindung antara dirinya dengan murka dan siksa Tuhannya, yaitu dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi maksiat.

Imam an Nawawi rahimahullah berkata bahwa takwa adalah istilah tentang melaksanakan segala kewajiban dan meninggalkan segala larangan.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan bahwa takwa artinya melakukan perintah dan meninggalkan larangan.

Thuluq ibnu Habib rahimahullah berkata tentang takwa, “engkau melaksanakan ketaatan (melaksanakan perintah), di atas cahaya dari Allah (ilmu), dengan berharap pahala dari Allah. Dan engkau meninggalkan maksiat terhadap Allah, di atas cahaya Allah dari Allah, karena takut terhadap hukuman Allah.”

Imam Ali bin Abi Thalib radliyallah ‘anhu berkata, “takwa adalah al Khaufu minal Jalil (takut kepada Allah yang Mahaagung), al ‘Amal bil Tanziili (mengamalkan al Qur’an dan al Sunnah), al Ridla bil Qalil (ridla atas pembagian rizki yang sedikit), dan al isti’dad liyaum al Rahiil (mempersiapkan diri untuk perjalanan di akhriat).”

Sifat takwa dalam Al Qur’an

Al Qur’an al Kariim tidak menyebutkan takwa secara definitif. Al Qur’an menyebutkannya dengan sifat-sifat orang bertakwa yang mudah di tiru dan diteladani orang yang bertakwa.

Berikut ini beberapa ayat yang menerangkan sifat-sifat takwa:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآَتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 177)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 133-135)

Al Qur’an menyifati orang-orang bertakwa sebai kaum yang mengimani pokok-pokok keimanan, memegang keyakinannya, mengamalkan amal dzahir dan amal batin, menunaikan ibadah-ibadah badaniyah (fisik) dan ibadah harta, bersabar dalam kesempitan dan ketika dalam peperangan, memaafkan orang lain, bersabar terhadap gangguan orang lain dan berbuat baik kepada mereka, segera beristighfar dan bertaubat ketika melakukan perbuatan nista dan mendzalimi diri sendiri.

Berarti hanya orang Islam dan beriman saja yang bisa bertakwa kepada Allah. Selain orang Islam, sebaik apapun amal perbuatannya, tidak bisa disebut orang bertakwa.

Semoga Allah senantiasa menambah ketakwaan kepada kita dan membantu kita dalam bertakwa kepada-Nya untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Amiin…

Oleh: Badrul Tamam

(PurWD/voa-islam)

About sesungguhnya pacaran dan musik itu haram hukumnya ( www.jauhilahmusik.wordpress.com , www.pacaranituharam.wordpress.com )

pops_intansay@yahoo.co.id
This entry was posted in voa-islam.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s